Cara Guru Menghadapi Siswa Nakal di Kelas dengan Sederhana


Istilah siswa nakal sering kita dengar. Tapi secara pribadi saya kurang setuju jika sebutan kata "nakal" menjadi sebutan ketika menghadapi siswa yang sering membuat gaduh di dalam kelas. 

Karena pada dasarnya anak tidak nakal, hanya kemungkinan besar dia memiliki sejumlah masalah yang kita tidak ketahui. Misalnya tidak mendapatkan perhatian baik dari orang tuanya, maka dia berulah hanya untuk mendapatkan perhatian khusus guru. Lalu hubungan kedua orang tua yang tidak harmonis, serta mungkin juga saudara yang acuh tak acuh atau bahkan kejam terhadap dia dan lain sebagainya. Kita tidak pernah tau itu. Untuk itu perlu dipahami.


Seperti Apa  Defenisi Anak Nakal di Sekolah Dasar?

Anak nakal merupakan kategori anak yang sering berbuat kurang baik terhadap lingkungan sekolahnya. Tapi tidak termasuk tindakan anarki. Umumnya nakal itu identik negatif. Olehnya itu sebutan nakal untuk anak SD kurang bagus sebaiknya menggunakan kata “usil”. 

Anak yang diasumsikan nakal di Sekolah Dasar tidak bisa disamakan dengan anak setara SMP dan SMA. Faktor penyebab utamanya adalah tingkat kematangan atau kedewasaan berpikir anak. Pola pikir anak dibarengi dengan tingkat usianya, lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat atau lingkungan sosialnya. 
Sifat usil anak ini muncul saat guru mengajar. Bermainlah, bercanda, megganggu, mengolok teman, memaksa mengambil alat tulis temannya, keliling di dalam kelas, menggambar apa saja yang dipikirkannya. Intinya berbuat semau dia. Lain halnya berada di luar kelas, sering bertengkar dengan teman, main tonjok semaunya, sukanya memukul teman, maupun perkelahian sesama teman, sering terjadi. 
Guru perlu memahami karakteristik usia Sekolah Dasar memang kecenderungannya adalah bermain. Namanya juga usil karena dilakukan oleh anak-anak. Itulah ciri khas kenakalan anak Sekolah Dasar yang pernah saya temukan dan hadapi.  

Sekilas Perlu Memahami Kondisi Yang Diperhadapkan Guru di Kelas?

Menghadapi siswa yang diasumsikan nakal di kelas, bukan perkara mudah. Keberagaman jumlah murid di setiap sekolah tentu berbeda. Sekolah yang memiliki hingga ribuan murid, jumlah kelas yang terbatas, memungkinkan jumlah siswa di kelas akan melampaui batas yang ditetapkan. Kondisi ini membuka peluang besar guru berhadapan dengan karakter siswa yang beragam pula.

Tapi apakah guru harus menolak menerima dan memilih keberadaan siswanya di kelas? Jawabannya “tidak”. Inilah yang pernah saya alami ketika mengajar. Dengan segala keterbatasan sekolah seperti ruang belajar yang tidak memungkinkan namun tetap guru berupaya menjalankan tugas dengan baik.

Khusus jenjang Sekolah Dasar, penetapan guru kelas menjadi kewenangan pemerintah. Dalam artian yang melaksanakan pembelajaran di kelas adalah wali kelas. Terkecuali mata pelajaran Agama dan Matematika dalam konteks kurikulum 2013 yang saat ini dijalankan masing-masing satuan pendidikan, dibelajarkan tersendiri oleh guru selain wali kelas.

Wali kelas dituntut untuk professional dalam mengelola pembelajaran. Tugas yang begitu banyak memungkinkan peran guru di kelas menjadi tidak efektif.  Hal-hal kecil yang bisa kita amati sebagai peran seorang guru misalnya mulai memikirkan strategi khusus mengelola kelas:
  • Bagaimana bisa menyampaikan materi pelajaran dengan baik?
  • Bagaimana menyiapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa sebagai bagian membantu memudahkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran?
  • Bagaimana membuat soal-soal yang bisa mengukur kompetensi siswanya sesuai dengan ketetapan indikator?
  • Bagaimana menyiapkan admisnistrasi guru yang akan dinilai oleh pengawas?
  • Mengurus siswa setiap hari, tentu membutuhkan komunikasi yang baik dengan orang tua. Lalu bagaimana menghadapi orang tua murid yang beragam karakter?
  • Yang lebih menyita perhatian guru adalah ketika mengajar di kelas lantas diperhadapkan dengan siswa yang nakal. Bagaimana menghadapinya?

Inilah rentetan segudang pertanyaan yang wajib dijawab oleh seorang guru. Apakah tugas ini boleh dilimpahkan ke orang lain. Sangat mustahil. 

Studi Kasus Melihat Korelasi Antara Tindakan Usil Anak, Sikap Guru dan Keterlibatan Orang Tua di Sekolah.

Sering terjadi perkelahian sesama anak di dalam atau di luar kelas. Kedua anak akan saling melaporkan kejadian itu kepada guru maupun orang tua mereka. Termasuk orang tua juga menyampaikan hal ynag sama kepada guru. Sesegera guru bisa mengatasinya, tanpa ada alasan apapun baik sibuk, tidak mood atau bosan menghadapi murid. Namun yang mengejutkan saat dilakukan proses penyelesaian, malah mereka senyum-senyum seolah tak ada kejadian dan tak ada masalah. Bahkan setelah baru diselesaiakan sudah saling mengajak makan bersama, berbagi makanan, bermain bersama. Inilah yang membuat saya menyimpulkan kategori kenakalan anak Sekolah Dasar bisa dibilang sebatas usil tanpa menyimpan rasa dendam.
Namun demikian dengan keusilan seorang anak, tetap saja peran guru dalam mengawasi, menasehati, memberikan perhatian sangat dibutuhkan sehingga sekiranya kebiasaan anak ini bisa dirubah perlahan-lahan menjadi karakter yang lebih baik.

Kemudian dalam proses ini, guru sebisa mungkin mengontrol emosi tidak hanya menghadapi anak tapi juga orang tua si anak. Karakter orang tua bermacam-macam. Ada yang menyikapi kejadian dengan baik. Ada juga yang menyikapnya dengan emosi. Seolah tak menerima kejadian itu. Merasa anaknya yang benar tanpa mengamati sikap anak saat berada di sekolah. Terkadang orang tua tidak mengetahui perbedaan sikap yang ditampakkan anak di rumah dan di sekolah.
Ini kembali ada kaitannya dengan cara orang tua memperlakukan anak di rumah. Orang tua yang sering menujukkan kontrol emosinya kurang baik dihadapan anak dan menyikapi segala tindakan anak dengan kurang baik, tentu saja anak akan takut melaporkan kesalahannya. Yang diberitau kepada orang tua adalah kebenaran sepihak. 
Begitupun guru dalam menyelesaikan masalah, mesti mengetahui akar permasalahan dengan jelas, sehingga dapat menberikan penjelasan, nasehat dengan alasan yang masuk akal dan diterima oleh siswa. Masing-masing siswa diberitahu kekeliruan dan kebenaran tindakan yang dilakukan.
Apakah hal ini tidak terjadi di sekolah lain? Saya yakin rata-rata disetiap sekolah akan ada siswa yang karakeristiknya sama atau hampir sama. Sekolah bernuansa religi sekalipun seperti pesantren dan sejenisnya. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama. Karena karakteritik anak usia Sekolah Dasar itu sudah pasti sama. Hanya saja sedikit banyaknya ada perbedaan lingkungan belajar. Ditunjang dengan penanaman nilai-nilai agama lebih ditekankan. 

Sehingga kasus ini memberikan makna yang berarti bahwa antara guru dan orang tua harus bisa menciptakan komunikasi yang baik dan pemikiran yang sejalan demi kebaikan perkembangan karakter anak di sekolah. Siswa usia Sekolah Dasar akan mulai mencontoh apa yang dilakukan orang tua di rumah dan Sikap teladan dari seorang guru di sekolah. Serta masih banyak faktor lain yang mempengaruhi karakter anak bisa lebih baik.

Lalu Bagaimana Cara Sederhana Menghadapi Siswa Nakal di Kelas?

Si anak diwajibkan duduk paling depan, sehingga mengurangi gerakan yang tidak diinginkan. Kalaupun badan dia gemuk, posisikan bagian pinggir, sehingga tidak menghalangi anak yang berada di belakang. 
Komunikasikan dengan orang tua. Tapi jangan ada ultimatum kepada anak kita akan memberitahukan tingkah dia kepada orang tuanya. Disatu sisi anak benci guru dan takut pulang ke rumah. Bisa berdampak negatif. Dan tidak semua hal disampikan pada orang. sekiranya yang dianggap perlu. 
Usahakan menegur dengan cara yang pelan/lembut. Jangan menunjukkan bahasa yang kasar. Sekalipun ada anak yang mesti diberitau dengan nada tinggi. Karena sikap yang kita tunjukkan kepada anak saat itu akan selalu berbekas di benak dia. Kelak dewasa, sukses, dia akan mengingat sikap kita dahulu. Alangkah bahagianya kita mendengar anak berkata bahwa “guru saya meskipun saya berulah tetap saja baik”. 
Bila telah menyelesaikan proses kesalahan anak, sebaiknya rangkulah anak. Karena dia akan merasa guru itu benar-benar pengganti orang tuanya di rumah. Tentu tindakan ini dengan melihat usia anak dan jenis kelamin. Akan berbeda guru perempuan dan laki-laki  ketika menghadapi siswa kelas tinggi.
Jika anak usil itu berbicara, dengarkan dengan baik. Sehingga dia merasa diakui keberadaanya dengan teman-teman lainnya tanpa ada perbedaan. Terkadang guru tidak peduli apa yang dikatakan anak, karena sudah terlanjur kita berpikir anak itu nakal. Jadi hilangkan cap nakal kepada anak. Itu bisa membuat guru akan selalu pilih kasih dan cuek menghadapinya. Sampai kapanpun tidak akan teratasi. Bahkan tindakan makin menjadi-jadi.
Sebisa mungkin guru tidak mengungkit atau menyebut secara berulang-ulang apa yang telah dilakukan anak kategori nakal...Setiap dia berulah selesaikanlah sesuai kesalahan yang dibuatnya ketika itu.
Guru jangan pilih kasih dalam menghadapi murid. Anak usil dan tidak usil berikan perhatian yang sama. Sehingga kategori anak nakal ini bisa tersentuh hatinya yang bisa mendorong dia merenungi untuk tidak lagi melakukan suatu kesalahan yang sama. sekalipun tidak diucapkannya
Ciptakan lingkungan dan proses pembelajaran yang menarik. Anak yang kita asumsikan nakal sekalipun, yakin saja akan beralih pada pembelajaran.
Paling penting guru siap menerima segala kelebihan dan kekurangan setiap siswa yang menjadi anak didik di kelas. Dalam konteks ini, guru bersikap adil menghadapi si anak nakal tanpa memandang lingkungan dimana dia dibesarkan, bagaimana penampilan anak, apa pekerjaan orang tuanya dan lain-lain.
Demikian cara sederhana menghadapi siswa yang diasumsikan nakal di kelas. Masih banyak cara lain. Sudah pasti masing-masing guru punya strategi khusus dalam menghadapi si anak usil ini. Sekedar berbagi pengalaman. Semoga bermanfaat.

Terimakasih...


0 Response to "Cara Guru Menghadapi Siswa Nakal di Kelas dengan Sederhana"

Post a Comment

Mohon Berkomentar Sesuai Topik Artikel dan Bahasa yang Sopan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel